Perguruan Tinggi Didorong Perkuat Peran Riset Partisipatif untuk Atasi Kesenjangan pada Pembangunan Pedesaan

SEMARANG — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Soegijapranata Catholic University (SCU) bekerja sama dengan Sajogyo Institute menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Spirit Mgr. Soegijapranata dan Prof. Sajogyo dalam Membaca Realitas Pedesaan melalui Penelitian dan Pengabdian”. Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrida di Mini Teater, Kampus 1 SCU Bendan, Semarang, pada Jumat, 24 April 2026.

Seminar nasional ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan SCU dalam turut memperingati 100 tahun Prof. Sajogyo, sosok yang diakui luas sebagai Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia. Melalui forum ini, SCU menegaskan komitmennya untuk meneruskan semangat dan warisan intelektual Prof. Sajogyo dalam upaya memajukan kehidupan masyarakat perdesaan melalui pendekatan ilmiah yang berpihak pada kelompok rentan.

Forum ilmiah tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi, di antaranya Prof. Tony D. Pariela dari Universitas Pattimura; Drs. Andreas Pandiangan dari Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) SCU; Dr. Rustina Untari, SE, MSi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) SCU; Dr. Alberta Rika Pratiwi, MSi dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) SCU; serta Dr. Ivanovich Agusta, SP, MSi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University.

Seminar ini secara khusus menggali dan merenungkan nilai-nilai serta semangat perjuangan dua figur berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yakni Mgr. Albertus Soegijapranata selaku Uskup Pribumi Pertama, dan Prof. Sajogyo yang dikenal sebagai pelopor Sosiologi Pedesaan di Indonesia. Momentum peringatan satu abad kelahiran Prof. Sajogyo menjadi latar yang semakin memperkuat relevansi forum ini, sekaligus menjadi pengingat bahwa gagasan-gagasan beliau mengenai kemiskinan dan keadilan agraria masih sangat kontekstual hingga hari ini.

Keduanya memiliki kesamaan dalam hal keberpihakan terhadap kelompok masyarakat yang termarginalkan. Mgr. Soegijapranata dikenal luas atas komitmennya membela kaum kecil dan tertindas melalui penerapan ajaran sosial Gereja, sementara Prof. Sajogyo meninggalkan warisan intelektual yang mendalam melalui kajian-kajiannya mengenai kemiskinan perdesaan dan pembangunan sektor agraria di Indonesia.

Kepala LPPM SCU, Dr. Y. Trihoni Nalesti Dewi, SH, M.Hum, menyoroti adanya jurang yang masih lebar antara gambaran statistik pembangunan desa secara agregat dengan kondisi kehidupan nyata masyarakat di tingkat akar rumput. Ia menilai bahwa pengukuran kemiskinan yang selama ini diterapkan, seperti pendapatan per kapita atau pengeluaran harian yang dikompilasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), hanyalah cerminan dari kondisi permukaan dan tidak mampu menangkap kerentanan struktural yang sesungguhnya.

Ketergantungan pada indikator tunggal berbasis ekonomi tersebut, menurut Dr. Trihoni, berimplikasi pada sempitnya ruang kebijakan yang tersedia untuk mendukung pembangunan desa secara menyeluruh. Alih-alih menelusuri akar permasalahan secara komprehensif, penanganan kemiskinan kerap kali hanya berkutat pada pemberian bantuan sosial berupa uang tunai guna mendongkrak daya beli masyarakat.

Lebih lanjut, ia menyoroti pula ketidakmerataan distribusi manfaat dari berbagai program intervensi yang ada. Dalam sektor pertanian misalnya, bantuan berupa alat produksi dan bibit tanaman cenderung hanya dinikmati oleh para pemilik lahan atau petani yang secara ekonomi sudah mapan, sementara petani berlapis rentan di kawasan perdesaan tetap berada di luar jangkauan kebijakan tersebut.

Rektor SCU, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, ST, M.Comp.IT., Ph.D, menekankan betapa pentingnya perguruan tinggi dalam mendorong transformasi sosial di lingkungan masyarakat perdesaan. Ia mengkritisi pendekatan pembangunan yang masih bersifat top-down, di mana masyarakat sekadar ditempatkan sebagai penerima pasif dari program-program yang dirancang tanpa melibatkan mereka, sehingga solusi yang ditawarkan kerap kali tidak relevan dengan persoalan yang dihadapi.

Menurutnya, masyarakat perlu diposisikan sebagai subjek yang aktif berpartisipasi dalam merancang perubahan dan merumuskan solusi atas permasalahan yang mereka alami sendiri. Semangat inilah yang sejatinya telah lama dihidupkan oleh Prof. Sajogyo sepanjang perjalanan akademis dan pengabdiannya, dan kini menjadi warisan yang perlu terus dijaga serta dikembangkan oleh generasi akademisi berikutnya.

Merespons persoalan-persoalan tersebut, forum ini menawarkan pendekatan Kaji-Tindak Partisipatif atau Participatory Action Research (PAR) yang selama ini dipelopori oleh Sajogyo Institute. Sekretaris Utama Sajogyo Institute, Eko Cahyono, menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk mengembalikan posisi masyarakat sebagai subjek perubahan sosial yang berdaya, bukan sekadar objek kajian akademik semata.

Dalam semangat peringatan 100 tahun Prof. Sajogyo, seminar nasional ini sekaligus menjadi momentum bagi SCU dan Sajogyo Institute untuk memperbarui komitmen bersama: bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai produsen pengetahuan, melainkan juga sebagai mitra strategis masyarakat dalam proses pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berakar pada kebutuhan nyata di kawasan perdesaan.

Share the Post:

Related Posts